Keluarga Besar Modesto

Kebiasaan Orang Jawa yang masih lestari

Berlama-lama di kota Megapolitan dengan segala hiruk pikuk kesibukan, kemacetan tiap harinya dan bahkan kemunduran juga kemerosotan moral yang stagnasi, ternyata tak membuat fikiran menjadi jernih. Akhirnya kuputuskan kembali ke kota kecil dengan harapan perbaikan moral, perubahan sosial, ekonomi dan tentunya berkumpul dengan keluarga tercinta.

Sudah tiga tahun ini merasakan suasana desa, kota kecil dengan Tahu kuningnya yang enak dimakan mentah dan budaya sopan santun yang masih terasa. Dan benar, kebiasaan orang Jawa juga tradisi yang masih lestari bisa dirasakan apabila berada dikota kecil atau desa sedangkan akan terasa hilang bila kita berada di kota besar.

Apa saja kebiasaan orang jawa khususnya di desa, yang masih lestari dan juga ditinggalkan bagi generasi penerus, berikut beberapa kebiasaan tersebut :

1. Soyo, gotong royong atau kerja bakti
Kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dan merupakan ciri khas bangsa Indonesia dari jaman dahulu hingga saat ini. Aktifitas yang dilakukan lebih mengarah pada kegiatan sosial tanpa pamrih. Budaya lokal ini sebenarnya tidak bergantung adanya musibah atau tidak dan budaya ini masih bisa ditemukan di banyak tempat khususnya di wilayah Jawa.

Biasanya gotong royong dilakukan pada hari minggu disaat semua warga libur dari pekerjaannya. Kegiatan sosial yang dilakukan semua warga baik laki-laki maupun perempuan untuk membersihkan lingkungan sekitar, memperbaiki saluran air got dan lainnya. Para remaja lelaki maupun bapak-bapak biasanya yang melakukan aktifitas agak berat sedangkan ibu-ibu akan menyediakan hidangan makanan dan minuman.

Gotong royong dan Soyo merupakan cermin dari kebersamaan, sosial dan kesederhanaan bagi masyarakat Indonesia khususnya masyarakat pedesaan.

2. Tumpengan
Tradisi tumpengan biasanya dipakai dalam acara slametan, syukuran atau kenduri dan sebagai wujud rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Tumpeng atau nasi tumpeng yaitu nasi yang dibentuk kerucut dan disajikan diatas tampah serta dialasi daun pisang, beserta lauk-pauknya seperti telur dadar, potongan timun, perkedel, kedelai goreng, ayam goreng dan daun seledri. Nasi yang dipakai pada umumnya berupa nasi kuning atau nasi putih.

kenduriTahun lalu di desa Pule Selatan diadakan tumpengan malam 17 Agustus ‘an dan digelar secara lesehan sepanjang jalan, kemeriahan terlihat dari raut wajah warga sekitar mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua. Dengan tumpengan, warga menunjukkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada Tuhan, serta merayakan kebersamaan dan kerukunan.

3. Air Kendi dan kearifannya
Masih ingat dengan air kendi yang ada di depan rumah?
Di masa lalu sering terlihat kendi yang terisi air putih tersedia di pagar-pagar depan rumah penduduk kampung atau desa, kendi tersebut memang sengaja disediakan pemilik rumah untuk orang-orang yang kehausan dalam perjalanan. Bentuk sosial yang mungkin jarang terjadi lagi di masa sekarang.

Teringat kala berkunjung ke Tulungagung sebulan lalu, tepatnya di Dusun Bujet desa Sukowiyono, karangrejo dekat dengan pembuatan kubah masjid bahan aluminium, masih ada rumah yang menyediakan Kendi di depan rumahnya untuk orang yang membutuhkan air minum. Kagum akan penghuni rumah tersebut dengan kearifannya.

Air dalam kendi disamping segar dan dingin, ternyata mampu menyegarkan dunia hati hingga mengobati kelelahan fisik. Akupun baru menyadarinya.

1 Comment

  1. han's Gravatar han
    March 25, 2015    

    jagong juga kebiasaan wwkwkw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>